“Ketika dalam suatu titik hidupnya di masa muda, mereka sadar dan ‘terpaksa’ memilih jurusan yang tidak selaras dengan minat pribadi, mereka tidak menyerah apalagi apatis.”
Masalah ini klise dan tidak Pernah ada habisnya, SALAH PILIH JURUSAN! Ada orang yang hobi dan punya talenta besar di bidang musik tapi mau tidak mau menerima kenyataan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran. Seseorang yang punya cita-cita besar kuliah di Fakultas harus berkompromi belajar di program diploma Teknik sipil yang sama sekali tidak menarik minatnya. Banyak sekali alasan mengapa ‘SALAH JURUSAN’ itu bisa terjadi dan terus terjadi.
“Ayo gantungkan cita-cita-mu setinggi langit!” kata orang tua kita di masa kita kecil Dan pada saat itulah cita-cita mulai digantungkan di langit tinggi,diantara bintang-bintang, dan bulan.Sangat tinggi, dan umumnya tidak realistis. Dengan lantang cita--cita itu dideklarasikan, “saya mau jadi pramugari, pilot, dokter, arsitek, astronot, penyanyi, artis…” Pokoknya semua profesi, pekerjaan yang tampak hebat di dunia kanak-anak kita, sah dipilih sebagai cita-cita.
Saya sendiri memilih cita-cita menjadi penyanyi! Alasannya sangat sederhana, di layar televisi para penyanyi itu tampak keren. Dengan suara ‘belepotan’ saya penuh usaha bisa menyanyikan lagu-lagu dari para penyanyi cilik,seperti trio kwek2 ,Joshua, maissy, Nikita, hingga westlife karna ini band favorit papa Q . Seolah belum cukup euphoria saya, seringkali saya berlagak sedang berakting menjadi bintang video klip, syuting dadakan di kamar, kamar mandi atau belakang rumah…
Di saat teman-teman SD saya sudah sibuk-sibuk berdebat mengenai cita-cita mereka menjadi pilot, polisi, dokter, astronot bahkan Sailor Moon, saya tetap setia cita-cita dari SD, menjadi penyanyi.
Tapi setelah masa-masa itu berlalu saya merasa harus me-refreshminat dan cita-cita saya. Tapi rasanya hal itu sulit sekali. Kenapa? Karena saya hanya menginginkan satu hal, dan tidak punya cadangan cita-cita.
Namun pada saat itu juga saya mulai menyadari bahwa saya tidak boleh begitu naifnya. Bahwa dunia ini besar, menawarkan saya banyak pilihan dan saya harus mau membuka diri apa lagi sih yang menjadi minat saya. Ternyata saya menemukan saya tertarik pada hal-hal yang berbaur Kimia. Saya suka pelajaran kimia. Saya jadi benar-benar tertarik untuk menjadi ahli dibidang kimia.
Saya mulai berpikir untuk mengambil jurusan Kimia. Ketika SMA orangtua saya mengusulkan saya untuk mengambil jurusan IPA, kebetulan saya anak nya penurut jadi saya masuk jurasan IPA di Bintang Timur Siantar. Setelah 3 tahun belajar di SMA akhirnya aku pun lulus dan mengikuti bimbingan belajar yang disebut Intensif . Selama intensif aku hanya masuk saat pelajaran Matematika,Kimia dan bahasa ingris selain pelajaran ini tidak pernah aku ikuti.
Masalah ini klise dan tidak Pernah ada habisnya, SALAH PILIH JURUSAN! Ada orang yang hobi dan punya talenta besar di bidang musik tapi mau tidak mau menerima kenyataan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran. Seseorang yang punya cita-cita besar kuliah di Fakultas harus berkompromi belajar di program diploma Teknik sipil yang sama sekali tidak menarik minatnya. Banyak sekali alasan mengapa ‘SALAH JURUSAN’ itu bisa terjadi dan terus terjadi.
“Ayo gantungkan cita-cita-mu setinggi langit!” kata orang tua kita di masa kita kecil Dan pada saat itulah cita-cita mulai digantungkan di langit tinggi,diantara bintang-bintang, dan bulan.Sangat tinggi, dan umumnya tidak realistis. Dengan lantang cita--cita itu dideklarasikan, “saya mau jadi pramugari, pilot, dokter, arsitek, astronot, penyanyi, artis…” Pokoknya semua profesi, pekerjaan yang tampak hebat di dunia kanak-anak kita, sah dipilih sebagai cita-cita.
Saya sendiri memilih cita-cita menjadi penyanyi! Alasannya sangat sederhana, di layar televisi para penyanyi itu tampak keren. Dengan suara ‘belepotan’ saya penuh usaha bisa menyanyikan lagu-lagu dari para penyanyi cilik,seperti trio kwek2 ,Joshua, maissy, Nikita, hingga westlife karna ini band favorit papa Q . Seolah belum cukup euphoria saya, seringkali saya berlagak sedang berakting menjadi bintang video klip, syuting dadakan di kamar, kamar mandi atau belakang rumah…
Di saat teman-teman SD saya sudah sibuk-sibuk berdebat mengenai cita-cita mereka menjadi pilot, polisi, dokter, astronot bahkan Sailor Moon, saya tetap setia cita-cita dari SD, menjadi penyanyi.
Tapi setelah masa-masa itu berlalu saya merasa harus me-refreshminat dan cita-cita saya. Tapi rasanya hal itu sulit sekali. Kenapa? Karena saya hanya menginginkan satu hal, dan tidak punya cadangan cita-cita.
Namun pada saat itu juga saya mulai menyadari bahwa saya tidak boleh begitu naifnya. Bahwa dunia ini besar, menawarkan saya banyak pilihan dan saya harus mau membuka diri apa lagi sih yang menjadi minat saya. Ternyata saya menemukan saya tertarik pada hal-hal yang berbaur Kimia. Saya suka pelajaran kimia. Saya jadi benar-benar tertarik untuk menjadi ahli dibidang kimia.
Saya mulai berpikir untuk mengambil jurusan Kimia. Ketika SMA orangtua saya mengusulkan saya untuk mengambil jurusan IPA, kebetulan saya anak nya penurut jadi saya masuk jurasan IPA di Bintang Timur Siantar. Setelah 3 tahun belajar di SMA akhirnya aku pun lulus dan mengikuti bimbingan belajar yang disebut Intensif . Selama intensif aku hanya masuk saat pelajaran Matematika,Kimia dan bahasa ingris selain pelajaran ini tidak pernah aku ikuti.
Kemudian saya mengikuti ujian UMB dan SNMPTN. Masuk UNPAD adalah impian saya. Masuk UNPAD adalah pembuktian diri. Bahwa saya bisa mengalahkan ketakutan pada sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Tapi orang tua saya melarang untuk mengambil pilihan diluar sumatera akhirnya saya memutuskan untuk memillih di pulau sumatera saja .Tak diduga dan disangka aaku masuk POLMED dgn jurusan T.sipil Panjang ceritanya kenapa saya jadi masuk teknik sipil dan itu pun di POLMED (kampus y baru ku dengar setelah saya berada di medan,sebelumnya tidak pernah dengar )
Tapi jujur saja, setelah benar-benar belajar di Teknik Sipil dan beberapa teman yang bertanya, “Gimana, asik belajar Teknik?,” terus terang saya tidak tahu jawabannya. Saya tidak bisa membayangkan akan menjadi Kontraktor atau Konsultan.
Pada dua tahun pertama saya merasa tidak cocok mengambil jurusan ini. Terlalu serius ilmu ini. Saya ingin yang mempelajari ilmu yang lebih ekspresif dan tidak kaku. Hari-hari saya hanya berisi keluhan tentang semua mata kuliah yang menurut saya sulit atau tidak menarik. Di kelas saya tidak bisa berkonsentrasi penuh. Tidak heran, nilai saya hanya rata-rata atau cukup – cukup makan.
Saya juga cenderung menyalahkan orang tua karena hal ini. Harusnya mereka tahu saya cinta musik, dan ingin jadi penyanyi atau musisi dan seorang ahli kimia. Kenapa saya harus kuliah dengan jurusan yang pelik begini? Hmm.. padahal saya sendiri yang menjatuhkan pilihan. Memang paling enak mencari kambing hitam. Saya frustasi karena cita rasa seni saya tidak tersalurkan .
Di lain sisi, cita-cita untuk lulus cum laude atau dengan IPK yang tinggi adalah mimpi saya. Saya memang banyak maunya. Melihat nilai yang ‘begitu-begitu saja’ dan membayangkan sulitnya membayangkan ketinggalan, saya merasa tertampar.Menyesal karena telah menghabiskan banyak waktu hanya dengan mengeluh. Sejak membuat keputusan untuk memancing diri untuk ‘menyukai’ kuliah saya dan berusaha sebaik-baiknya mengerjakan semua tugas. Dan nyatanya pada semester-semester berikutnya, saya mendapatkan nilai jauh lebih baik. Semangat tumbuh dengan sendirinya, dan saya memastikan lulus tahun ini juga. Setidaknya itulah kompromi saya.
Pada dua tahun pertama saya merasa tidak cocok mengambil jurusan ini. Terlalu serius ilmu ini. Saya ingin yang mempelajari ilmu yang lebih ekspresif dan tidak kaku. Hari-hari saya hanya berisi keluhan tentang semua mata kuliah yang menurut saya sulit atau tidak menarik. Di kelas saya tidak bisa berkonsentrasi penuh. Tidak heran, nilai saya hanya rata-rata atau cukup – cukup makan.
Saya juga cenderung menyalahkan orang tua karena hal ini. Harusnya mereka tahu saya cinta musik, dan ingin jadi penyanyi atau musisi dan seorang ahli kimia. Kenapa saya harus kuliah dengan jurusan yang pelik begini? Hmm.. padahal saya sendiri yang menjatuhkan pilihan. Memang paling enak mencari kambing hitam. Saya frustasi karena cita rasa seni saya tidak tersalurkan .
Di lain sisi, cita-cita untuk lulus cum laude atau dengan IPK yang tinggi adalah mimpi saya. Saya memang banyak maunya. Melihat nilai yang ‘begitu-begitu saja’ dan membayangkan sulitnya membayangkan ketinggalan, saya merasa tertampar.Menyesal karena telah menghabiskan banyak waktu hanya dengan mengeluh. Sejak membuat keputusan untuk memancing diri untuk ‘menyukai’ kuliah saya dan berusaha sebaik-baiknya mengerjakan semua tugas. Dan nyatanya pada semester-semester berikutnya, saya mendapatkan nilai jauh lebih baik. Semangat tumbuh dengan sendirinya, dan saya memastikan lulus tahun ini juga. Setidaknya itulah kompromi saya.
Ada baik nya kita mampu menenentuka pilihan mana y terbaik buat kita, Meskipun pilihan yang kita pilih tidak selaras dengan minat pribadi, jangan menyerah apalagi apatis. Tetapi memilih berkompromi dengan manis tanpa mengeluh dan mengorbankan waktu dan tenaga. Dengan begini ‘ Pengorbanan ‘ y telah kita lakukan tidak akan sia2


JUST IT
BalasHapus